Jakarta (ANTARA) - Anggota Komite Eksekutif PSSI Arya Sinulingga menyoroti maraknya ujaran rasis pisangbet slot logindalam sepak bola Indonesia serta mengingatkan bahwa larangan kehadiran suporter tim tamu masih berlaku.
Arya mengatakan sepak bola sejatinya menjunjung tinggi nilai fair play serta menolak segala bentuk rasisme, sehingga ia menyayangkan jika praktik tersebut justru muncul di kalangan suporter Indonesia.
"Itu yang kita cukup sedih. Sebenarnya di dunia ini sepak bola fair play-nya kuat. Sepak bola itu fair play. Dan, anti-rasisme itu sudah jadi gerakan di sepak bola. Jadi, sampai kenapa kita terlalu gampang tangan kita untuk menulis ataupun omongan kita terlalu gampang untuk rasis,” kata Arya saat ditemui di Jakarta, Jumat.
“Jadi, kita harapkan ada kesadaran baru di teman-teman untuk jangan ada ungkapan-ungkapan seperti itu dan sangat tidak sehat untuk sepak bola kita. Jadi, jangan terlalu gampang untuk menulis tanpa berpikir. Ini gampang sekali kita menulis tanpa berpikir, ini yang saya harap teman-teman PSSI Pers bisa bantu kita untuk memberikan kesadaran itu," lanjutnya.
Masalah rasisme kembali menodai sepak bola Indonesia, khususnya Super League, dalam beberapa waktu terakhir. Beberapa pemain menjadi korban pelecehan rasis, baik di lapangan maupun melalui jaringan daring.
Baca juga: Persija Jakarta kecam keras rasisme terhadap Allano Lima
Ia juga mengapresiasi langkah Persebaya Surabaya yang menutup tribun utara sebagai respons terhadap adanya ujaran kebencian dari sebagian suporter.
"Saya rasa klub seperti Persebaya jadi sebuah ini, bagi kita bahwa respon positif mereka itu sangat bagus. Jadi, kami respek betul dengan Persebaya yang membuat langkah seperti itu. Sehingga, gerakan ini jadi gerakan di tempat yang lain juga untuk menolak rasisme,” tutur Arya.
Selain itu, Arya juga menyinggung insiden kerusuhan yang melibatkan suporter dalam beberapa pertandingan terakhir di BRI Super League. Ia mengingatkan suporter agar tidak melupakan pelajaran dari tragedi sebelumnya dalam sepak bola nasional.
"Ini suporternya lupa sama (Tragedi) Kanjuruhan dan lain-lain. Jadi, mereka lupa sepertinya, itu yang membuat kami sedih juga. Sebenarnya kami sudah bilang tidak boleh away (tandang), tapi tetap saja dilanggar. Kemarin juga ada itu satu pertandingan away, itu bagus antar suporter, terus saya ditanya, 'Ini bagus, ayo dong buka away-nya’,” ujar Arya.
Baca juga: Erick Thohir apresiasi komitmen FIFA PVP untuk terus perangi rasisme
Dengan melihat dinamika yang ada, maka Arya menyebut bahwa larangan pendukung tim tandang masih akan diterapkan pada sisa kompetisi Super League musim ini. Terutama karena musim ini sudah memasuki fase-fase genting.
“Karena menuju akhir-akhir liga sedikit rawan, baik dari Liga 1 maupun Liga 2 karena masalah promosi. Liga 1 ketat sekali di atas, di bawah pun juga dekat. Maksudnya yang di atas mau juara, yang di bawah tidak mau degradasi. Jadi, harus ada perhatian khusus," kata Arya.
Ia menegaskan larangan kehadiran suporter tim tamu bisa saja tetap diberlakukan pada musim berikutnya apabila situasi keamanan tidak menunjukkan perbaikan.
"Untuk musim depan? Kalau terus seperti ini terus, jangan salahkan federasi ketika itu diterapkan. Karena kita tidak bisa disiplin dan tidak bisa menunjukkan bahwa kita mampu untuk itu, malu. Kita setiap pertandingan kursi di lempar-lempar, dibongkar, apa itu," ujar Arya.
Baca juga: Pemain Bali United laporkan serangan rasisme melalui media sosial
Pewarta: A Rauf Andar Adipati
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2026




.gif)
.gif)



